Lanjut ke konten

Penelitian Tindakan Kelas Bimbingan Konseling

Februari 15, 2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

 

A.  Latar Belakang Masalah

Sekolah sebagai salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan formal mempunyai peranan yang amat penting dalam usaha mendewasakan anak dan menjadikannya sebagai anggota masyarakat yang berguna. Hal ini berarti sekolah turut pula bertanggungjawab tercapainya suatu tujuan, yang telah ditetapkan.

Perlu dipahami bahwa masing-masing individu memiliki karakter yang berbeda-beda ada yang memiliki daya serap yang cepat ada yang sedang ada yang rendah. Karena berbedaan inilah yang dapat menimbulkan masalah kesulitan belajar sedang siswa yang pandai akan jenuh apabila proses pembelajaran disamakan dengan yang lambat belajar atau mengalami kesulitan belajar.

Oleh sebab itu agar proses belajar mengajar berjalan dan berhasil dengan baik perlu mengadakan bimbingan belajar dan motivasi agar siswa terdorong untuk melakukan kegiatan belajar dan penyesuaian diri terhadap lingkungan dimana siswa berada, guru harus memahami semua siswa dalam satu kelas yang menjadi tanggungjawabnya. Dengan memahami ciri, sifat dan kemampuan masing-masing individu memudahkan guru dalam memberikan bimbingan dan motivasi belajar.

Belajar adalah inti dari kegiatan sekolah, maka guru berkewajiban untuk membantu mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa dengan cara memberikan bimbingan yang sesuai kesulitan yang dihadapi oleh siswa yang bersangkutan. Ketercapaian perkembangan siswa diperlukan tiga komponen pokok : 1) program kurikulum; 2) administrasi, 3) bimbingan belajar yang terarah. Ketiga komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang integral.

Bimbingan di sekolah, sangat diperlukan guna membantu siswa dalam mengatasi permasalahannya, dalam masalah belajar atau masalah pribadi siswa. (Pedoman BP.SD, 1994 ). Bimbingan siswa harus memiliki prinsip dasar yang kuat sebagai landasan pelaksanaannya, sehingga bimbingan dan motivasi belajar merupakan salah satu program yang harus dilaksanakan di sekolah.

Sekolah merupakan salah satu sistem pendidikan, dihadapkan pada tugas pokok untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik, kecerdasan, ketrampilan serta budi pekerti yang luhur merupakan unsur daripada tujuan pendidikan di sekolah. Guru berkewajiban untuk memberikan bimbingan dan motivasi belajar pada kesulitan yang sangat mendasar.

Bimbingan dan motivasi belajar ini diberikan secara khusus oleh guru kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam bidang pembelajaran ini, agar mereka dapat mandiri, memiliki kepercayaan diri, sehingga lama kelamaan mereka akan dapat memecahkan masalahnya sendiri.

Bimbingan pribadi berfungsi untuk mengembangkan potensi manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda. Potensi tersebut berkembang menjadi suatu kemampuan tertentu dalam sifat-sifat yang nampak pada diri seseorang tidak ada yang persis sama, itulah keunikan seseorang.

Dalam kehidupan sehari-hari keunikan, ciri-ciri dan kemampuan yang nampak kurang atau jelek, seseorang akan merasa rendah diri, menutup diri, maka dengan keunikan, ciri-ciri dan kemampuan yang nampak baik, seseorang akan merasa besar kepala, sombong dan acuh.

Pada siswa perlu memahami hal ini semua. Siswa harus mampu mengembangkan sikap positif, menerima dengan lapang dada atas kekurangannya, berakal dan berusaha memperkecil atau mengatasi keurangan-kekurangan tersebut. Sebaiknya bersyukurlah  bagi mereka yang memiliki kelebihan. Ciri-ciri dan kemampuan yang kurang diterima dan dihargai dengan sikap yang wajar, arif, dan bijaksana, tidak perlu disesali yang penting ada usaha utnuk memperbaiki, sedangkan ciri-ciri dan kemampuan yang sudah baik harus dipelihara, dipertahankan dan ditingkatkan.

Tugas guru adalah menumbuh kembangkan modalitas siswa dengan bimbingan dan motivasi belajar sebab kenyataan di lapangan nilai pembelajaran Bidang Bimbingan Pribadi selalu rendah mencapai nilai rata – rata 59. Dengan rendahnya nilai tersebut berarti siswa mengalami kesulitan belajar yang mendasar. Karena rendahnya prestasi belajar ini merupakan salah satu indikasi bahwa siswa mengalami kesulitan belajar yang serius.

Melihat harapan dan kenyataan di lapangan seperti itu, maka penulis melakukan Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul : “Meningkatkan Prestasi Belajar Melalui Bidang Bimbingan Pribadi Materi Psikologi Remaja Siswa Kelas XI Semester II SMA Negeri ………… Dengan Bimbingan dan Motivasi “.

Dengan harapan dapat memberikan salah satu alternatif sebagai solusi dalam upaya mengatasi kurang berhasilnya dalam pembelajaran Bidang Bimbingan Pribadi kelas XI, yang selama ini dikeluhkan oleh berbagai kalangan, baik orang tua, masyarakat, guru dan sekolah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah sebagai berikut :

1.    Apakah bimbingan dan motivasi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa ?

2.                Bagaimana bimbingan dan motivasi siswa dapat meningkatkan prestasi belajar  siswa?

C. Tujuan Penelitian

Bertolak dari rumusan masalah dalam penelitian ini maka tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di atas bertujuan sebagai berikut :

1.  Untuk mengatasi bahwa bimbingan dan motivasi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

2.  Untuk mengetahui cara memberi bimbingan dan motivasi agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

D.      Hipotesis Tindakan

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian di atas maka hipotesis tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah : “Bimbingan dan motivasi dapat meningkatkan prestasi pembelajaran Bidang Bimbingan Pribadi pada materi Psikologi Remaja siswa SMA Negeri …………, Kabupaten ………… “.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini bermanfaat bagi siswa, guru, sekolah sebagai berikut :

1.  Bagi siswa, dengan menyadari akan kekurangan yang ada pada dirinya, siswa akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki segala kelemahan dan kesulitan belajar yang dihadapi melalui bimbingan dan motivasi. Karena siswa telah termotivasi maka mereka akan menggerakkan daya upaya untuk mencapai prestasi belajar yang lebih baik.

2. Bagi guru, dengan menyadari kewajiban dan tanggung jawab dalam membantu perkembangan siswa melalui kritik diri akan selalu berusaha memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran, bimbingan dan motivasi untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar, menemukan salah satu alternatif dalam upaya peningkatan prestasi belajar siswa.

3.  Bagi sekolah, memberikan masukan bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas dan hasil belajar siswa serta sebagai sarana pembelajaran untuk meningkatkan kerjasama dan kreatifitas guru.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Bimbingan dan motivasi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa itu banyak macamnya. Untuk menghindari uraian yang panjang lebar, dalam penelitian tindakan ini penulis batasi pada “Meningkatkan Prestasi Belajar Bidang Bimbingan Pribadi Materi Psikologi Remaja pada Siswa Kelas XI Semester II SMA Negeri ………… dengan Bimbingan dan Motivasi“, pada fokus Psikologi Remaja dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai yaitu memiliki pemahaman tentang kekuatan diri dan dapat mengembangkannya untuk kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif.

G.      Definisi Operasional

Dengan berdasarkan pada latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan ruang lingkup penelitian tindakan di atas beberapa istilah yang digunakan dijabarkan operasionalnya demi kejelasan, ketegasan serta untuk menghindari salah pemahaman, salah pengertian dalam menginterprestasikan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.  Bimbingan merupakan suatu bantuan yang diberikan oleh seorang kepada orang lain (murid) yang dirasa bermasalah dengan harapan murid itu dapat menerima keadaan sehingga dapat mengatasi masalahnya dan mengadakan penyesuaian diri terhadap lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, HM, Arifin  (1992 : 4).

2.  Motivasi merupakan dorongan yang ada dalam diri siswa untuk menggerakkan daya upaya suatu aktivitas tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan, Sukari Setijono,  (1992 : 56). Motivasi ini tidak tumbuh dengan sendirinya tetapi butuh latihan dan dorongan.

3.  Penelitian Tindakan adalah penelitian yang dipusatkan pada analisis refleksi, terhadap apa yang aktual terjadi di dalam kelas. Dalam hal ini adalah aktivitas guru, aktivitas siswa dan interaksi siswa – siswa, guru – siswa dan bahan atau tugas-tugas pembelajaran yang digunakan yang teramati selama pembelajaran Bidang Bimbingan Pribadi dengan materi Psikologi Remaja berlangsung, Me. Niff; (1992). Tujuannya adalah untuk mengetahui, mengerti, mengkaji dan menemukan  “makna” di balik realitas sosial yang terjadi selama pembe-lajaran Bidang Bimbingan Pribadi dengan materi Psikologi Remaja berlangsung di dalam kelas. Berdasarkan makna yang terungkap kemudian disusun program tindakan “Meningkatkan Prestasi Belajar Bidang Bimbingan Pribadi Materi Psikologi Remaja dengan Bimbingan dan Motivasi pada Siswa Kelas XI Semester II SMA Negeri …………, Kabupaten ………… “.

4.  Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai, melalui aktivitas yang dilakukan secara dasar untuk memperoleh sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil aktivitas dalam belajar. Prestasi belajar tidak dapat diketahui tanpa diadakan penilaian (W.J.S. Poerwadarminta, 1984). Penilaian adalah suatu tindakan atau suatu prosentase menentukan nilai dari pada suatu atau proses untuk menentukan nilai dari pada sesuatu, Wayan Nur Hasana, D.B, (1983).

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

 

A. Bimbingan

a. Pengertian Bimbingan

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada murid dengan memperhatikan murid itu sebagai individu dan makhluk sosial, serta memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individu agar murid itu dapat membuat tahap seoptimal mungkin dalam proses perkembangannya dan agar ia dapat menolong dirinya, menganalisa dan menemukan masalah­-masalah temuannya itu demi memajukan kebaha-giaan hidup terutama ditekankan pada kesejahteraan jiwa (mental), Balitbang, (1978 : 2).

Menurut Pedoman PPL UMN Malang (1999), Bimbingan belajar siswa adalah upaya mengenal, memahami dan menetapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan kegiatan mengidentifikasi, mendiagnosa, memprognosa dan memberikan pertimbangan pemecahan masalah.

Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang ditujukan kepada individu atau kelompok siswa agar yang bersangkutan dapat mengenali dirinya sendiri, baik kemampu-an yang dimilikinya maupun kelemahannya agar selanjutnya dapat mengambil keputusan dan dapat bertanggungjawab dalam menentukan jalan hidupnya atau memecahkan sendiri kesulitan yang dihadapi serta dapat memahami lingkungannya, secara tepat sehingga dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya.

  • Langkah-langkah bimbingan belajar

l.   Mengenal siswa yang mendapat kesulitan belajar dengan menggunakan norma atau ukuran kriteria tertentu.

2.  Mencari sebab-sebab siswa mendapat kesulitan.

3.  Mencari usaha untuk membantu memecahkan kesulitan-kesulitan itu.

4.  Mengadakan pencegahan supaya kesulitan yang dialami seseorang tidak menular kepada yang lain, Sutijono, S. (1991 : 49).

Jika permasalahan siswa tidak segera ditemukan solusinya, siswa akan mengalami kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan rendah prestasinya/tidak lulus, rendahnya prestasi belajar, minat belajar atau tidak dapat melanjutkan belajar, S. Sucitae, (1972 : 2).

Langkah-langkah yang ditempuh untuk menjamin keberhasilan belajar adalah : 1) Identifikasi masalah siswa, 2) Diagnosa, 3) Prognosa, 4) Pemberian Bantuan, 5) Follow up (tindak lanjut).

1) Identifikasi Masalah Siswa

Identifkasi masalah siswa adalah untuk menentukan siswa yang mengalami kesulitan belajar yang sangat memerlukan bantuan. Langkah ini “sangat mendasar sekali” dan merupakan awal kegiatan bimbingan terhadap siswa yang bermasalah, untuk menentukan masalah yang dialaminya.

Dalam bimbingan belajar siswa, masalah yang terjadi dijaga, kerahasiaannya. Dikandung maksud agar siswa yang mengalami permasalahan tidak terbebani, tidak ragu dan tanpa rasa takut mengungkapkan permasalahannya dengan jujur. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawan-cara, dan instrumen.

2) Diagnosa

Diagnosa dilakukan dalam bimbingan belajar, diartikan sebagai rumusan-rumusan masalah siswa, jenis kesulitan serta latar belakang kesulitan dalam Bidang Pribadi, serta kesulitan belajar atau masalah yang mengganggu aktivitas-nya sehari-hari, sehingga mempengaruhi belajarnya.

3) Prognosa

Prognosa merupakan kegiatan memperkirakan permasala-han, apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar tidak segera mendapat bantuan. Bertujuan untuk menentukan bantuan yang dapat diberikan kepadanya.

4) Pemberian Bantuan

Bantuan yang diberikan dengan menggunakan pengarahan, motivasi, belajar. Cara mengatasi masalah kesulitan belajar melalui latihan-­latihan dan tugas baik individu maupun kelompok, secara rutin.

5) Tindak Lanjut

Tindak lanjut kegiatan bimbingan belajar, untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan atau ketidakberhasilan, usaha-usaha memberikan bantuan pemecahan masalah yang telah diberikan.

b. Fungsi Bimbingan Belajar

1) Fungsi Koratif

Tindak lanjut dari bimbingan belajar adalah merupakan usaha memperbaiki kekurangtepatan yang sebelumnya dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas antara lain “kekurangan dalam merumuskan tujuan, dalam menggunakan metode, dalam menggunakan media (alat bantu mengajar) pemilihan bahan dan materi pelajaran dalam menyusun evaluasi dan pengelolaan pelajaran.

2) Fungsi Penyesuaian

Bimbingan belajar adalah salah satu motivasi ekstrinsik agar siswa menyesuaikan diri dengan situasi belajar di kelas. Siswa dapat belajar sesuai dengan kondisi pribadinya, sehingga ia memiliki peluang yang besar untuk mencapai prestasi belajar yang lebih baik.

3) Fungsi Akselerasi

Siswa yang lambat belajar dapat ditingkatkan kecepatan belajarnya melalui program bimbingan belajar, karena bahan, materi, waktu yang disediakan telah disesuaikan dengan kesulitan yang dialami siswa.

4) Fungsi Terapi

Langsung atau tidak langsung pemberian bimbingan belajar sedikit demi sedikit menyembuhkan atau memperbaiki kondisi kepribadian siswa yang menunjukkan adanya penyimpangan tingkah laku belajar. Pentingnya pemberian bimbingan belajar dapat dilihat dari berbagai segi, kenyataan menunjukkan bahwa masih ada siswa dalam satu kelas yang prestasi belajarnya rendah jauh dibawah prestasi belajar rata-rata kelas. Dari segi guru bahwa guru memiliki tanggung jawab atas keberhasilan siswa seluruh kelas, atau tanggung .jawab atas tercapainya tujuan pembelajaran yang telah diterapkan.

c. Teknik Pemberian Bimbingan

Ada beberapa teknik pemberian bimbingan belajar antara lain :

1) Bimbingan individual, diberikan kepada beberapa siswa yang mengalami kesulitan belajar yang berbeda-beda dengan cara memberikan bimbingan secara langsung berupa latihan atau penugasan secara individu.

2) Bimbingan Kelompok

a.  Bimbingan kelompok kecil

Bimbingan kelompok kecil antara 2-5 siswa, bantuan ini berupa kelompok kecil. Dengan cara latihan kelompok atau tugas kelompok salah satu teman yang pandai menjadi tutor sebaya.

b.  Bimbingan kelompok besar, terdiri dari 6-10 siswa peranan guru sebagai motivator, yang membimbing sekelompok siswa aktif belajar. Dalam kegiatan ini guru menciptakan situasi agar diskusi terjadi. Sehingga semua anggota kelompok dapat ikut aktif dalam diskusi, sehingga semua anggota kelompok dapat ikut aktif dalam diskusi. Materi dapat berupa latihan atau penugasan yang terkait dengan pembelajaran Bidang Bimbingan Pribadi Materi Psikologi Remaja. Guru berkewajiban untuk memberikan bimbingan dan bantuan khusus kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar mampu mengatasi kesulitannya sendiri dengan baik. Adapun langkah yang harus ditempuh telah diuraikan “di depan” (Identifikasi masalah siswa, diagnosa prognosa, pemberian bantuan, follow up (tindak lanjut). Pada intinya belajar itu dipengaruhi 2 faktor : 1) faktor intrinsik dan 2) faktor ekstrinsik.

1) Pengaruh intrinsik

Kemungkinan kondisi siswa pada waktu mengerjakan tugas, tidak belajar, kelelahan kurang tidur dan lain sebagainya.

2) Pengaruh ekstrinsik

a)  Materi Bidang Bimbingan Pribadi diberikan guru terlalu mudah atau terlalu sulit, sebab materi yang terlalu mudah membuat siswa tidak respon (tidak tertantang) karena bosan dapat berakibat frustasi, apabila materi terlalu sulit.

b) Kemungkinan kegiatan pembelajaran kurang efektif dan menarik sehingga siswa tidak termotivasi untuk belajar. Dari dua pengaruh di atas siswa mengalami kesulitan belajar.

B. Motivasi

1. Pengertian  Motivasi

Motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat “upaya” yang tinggi untuk tujuan-tujuan tertentu yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuh kebutuhan individu. Unsur “upaya” merupakan ukuran intensitas, bila seseorang termotivasi, akan mencoba sekuat tenaga dan pikiran untuk belajar lebih baik.

Menurut W.J.S. Poerwadarminta (1984 : 655) dikatakan kata motivasi ditinjau dari bahasa dapat diartikan sebagai daya pengarah untuk melakukan sesuatu, demi tercapainya tujuan.

Sedangkan Sukarni Sitiyono, (1992 : 56) mengatakan bahwa “motivasi” merupakan, suatu dorongan yang ada dalam diri siswa (individu) untuk menggerakkan suatu aktivitas tertentu dalam rangka mencapai tujuan.

Tujuan yang dimaksud adalah prestasi belajar siswa meningkat, untuk meningkatkan prestasi belajar itu guru harus mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif taat ruang yang menyenangkan kreatif dan pembelajaran serta menciptakan kedisiplinan. Sebab kedisiplinan merupakan “kata kunci” untuk mencapai suatu keberhasilan utamanya disiplin waktu. Siswa dibiasakan hidup disiplin, teratur lalu tanggung jawab baik di rumah maupun di sekolah.

Disiplin dalam mengerjakan tugas dapat tepat waktu sesuai yang telah ditentukan. Dengan demikian motivasi itu akan timbul yang akhirnya secara sadar akan terbiasa. Sebab motivasi itu bukan dibawa sejak lahir tetapi perlu dibentuk dilatih, ditimbulkan, dibimbing, dan didorong, agar siswa termotivasi untuk belajar.

2. Macam-Macam Motivasi

Motivasi ada dua macam yaitu, motivasi a) intrinsik dan b) motivasi ekstrinsik.

a) Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik adalah motivasi dari dalam. Karena dalam diri siswa sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu, maka yang dimaksud motivasi intrinsik dorongan dari dalam diri siswa ingin mencapai suatu tujuan dalam suatu pembelajaran.

b) Motivasi ekstrinsik

Motivasi dari luar adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya, aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan rangsangan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar

Dengan kata lain motivasi dapat diartikan sebagai daya upaya seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat diartikan sebagai daya upaya seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi

a) Situasi rumah

Ciptakan situasi rumah tangga yang harmonis jangan ada perselisihan diantara anggota keluarga, ciptakan suasana keluarga yang kondusif, sehingga siswa termotivasi untuk belajar.

b) Sarana belajar

Orang tua hendak memperhatikan sarana belajar baik berupa buku, alat tulis, dan lain sebagainya. Sarana belajar hendaknya tersedia, dengan lengkap dan dalam keadaan baik. Artinya sarana belajar itu tidak hanya dilihat ada tidaknya, namun masih layak dipakai atau tidak, Budi Santoso, D. (1992 : 52).

c) Kesempatan Belajar

Kesempatan belajar yang dimaksud adalah penyediaan waktu yang cukup dalam suasana damai, tenteram, dalam suasana keluarga yang kondusif.

d) Pengawasan orang tua

Pengawasan kepada anak-anak itu penting sekali untuk menimbulkan kecenderungan gemar belajar, karena ada perhatian orang tua kepada anaknya. Pengawasan tersebut tidak berarti menghambat anak belajar atau menekan cara belajar, tetapi bersifat mendorong anak untuk belajar sendiri.

4. Keadaan di Sekolah

Ada sepuluh sikap baik yang disukai anak :

a.  Suka menolong pekerjaan sekolah dan menerangkan pelajaran dengan jelas dan mendalam serta menggunakan contoh-contoh yang baik dalam pengajaran.

b.  Periang dan gembira, memiliki perasaan humor dan suka menerima lelucon.

c. Bersikap bersahabat, merasa sebagai seorang guru dalam kelompok kelas.

d. Menaruh perhatian dan memahami muridnya.

e.  Berusaha agar tampil menarik dapat membangkitkan keinginan dapat membangkitkan keinginan bekerjasama dengan murid.

f. Tugas sanggup menguasai kelas dan dapat membangkitkan rasa hormat pada anak didik.

g.  Tidak ada yang lebih disenangi dan pilih kasih.

h.  Tidak suka mengomel dan mencela.

i. Anak didik merasakan benar-benar merasakan bahwa ia mendapat sesuatu dari guru.

j. Mempunyai pribadi yang dapat diambil contoh dari murid dan masyarakat lingkungan.

Profil guru yang ideal adalah mereka mengabdikan diri berdasarkan hati nurani bukan tuntutan material oriented yang membatasi tugas dan tanggung jawab mereka sebatas dinding sekolah atau dengan kata lain sekedar mencari nafkah. Guru mau dan mampu memberi bimbingan, motivasi belajar.

C. Prestasi Belajar

Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan diciptakan baik secara individu atau kelompok. Prestasi dapat diperoleh melalui perjuangan W.J.S. Poerwadarminta, 1984 berpendapat bahwa “prestasi” adalah hasil yang telah dicapai.

Sedangkan belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Sudirman, AM, (1988) mengemukakan suatu rumusan bahwa belajar sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga psikopisik menuju perkembangan pribadi.

Dari beberapa pendapat para ahli pada dasarnya ada kesamaan dan dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil belajar yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil belajar. Menurut Imam Nurhidayat Copo (1986 : 52) mengatakan yang dapat menghambat prestasi belajar adalah sebagai berikut :

1. Intelegensi yang rendah

2.  Siswa SMA pada umumnya mereka kurang serius dalam mengikuti kegitan belajar mengajar.

3. Mungkin guru kurang pandai menumbuhkan waktu yang baik.

4.  Siswa bisa memilih atau menggunakan waktu yang baik.

5.  Para siswa belum bisa menggunakan teknik yang baik untuk belajar secara efektif dan efisien.

6.  Mungkin orang tua yang kurang memperhatikan terhadap prestasi belajar anaknya.

7.  Lemahnya semangat belajar karena tidak memiliki cita-cita.

8.  Kadang-kadang anak bandel masa bodoh dan kebal peringatan.

9.  Tidak mau belajar secara kelompok, terlalu percaya diri, ternyata masih tertinggal dengan teman-temannya.

10. Lingkungan belajar yang kurang baik.

11. Kondisi jiwa anak tidak stabil.

Setelah mengetahui faktor-faktor yang menghambat keberhasilan belajar, cara-cara untuk meraih keberhasilan antara lain sebagai berikut :

1. Pendisiplinan

Setiap siswa hendaknya disiplin waktu artinya pandai membagi waktu. Apabila ada tugas dari guru harus segera dikerjakan, siswa yang tidak disiplin waktu bisa saja kesuksesan tertunda dan lain sebagainya.

2. Pandai memanfaatkan fasilitas

Siswa yang kreatif sudah dapat mengerjakan tugas sebelum diajarkan oleh guru karena siswa belajar dari televisi, media masa, media elektronika, radio, ensiklopedia dan lain sebagainya.

3.  Membentuk kelompok diskusi

Dalam diskusi peran serta siswa diharap semua aktif, baik menjadi penanya atau penjawab. Untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, terjadi interaksi siswa-siswa dan guru-siswa.

4.  Perlu motivasi

Pada dasarnya hambatan yang ditemui seorang yang sedang belajar adalah menyangkut teknik cara belajar pendorong belajar berupa motivasi.

5.  Jangan malu bertanya

Pada umumnya malu bertanya adalah penyakit dalam belajar, karena hal ini tidak menguntungkan.

D.  Pengajaran Bidang Bimbingan Pribadi di SMA

                 Pengajaran bidang bimbingan pribadi merupakan salah satu bidang bimbingan dalam Bimbingan dan Konseling (BK) yang terbagi lagi menjadi 4 model bimbingan yaitu:

1.    bimbingan pribadi

2.    bimbingan sosial

3.    bimbingan belajar

4.    bimbingan karir

Sedangkan jenis-jenis layanan BK itu sendiri terdiri dari beberapa layanan, yaitu antara lain:

1.    orientasi

2.    informasi

3.    penempatan/penyaluran

4.    pembelajaran

5.    konseling perorangan

6.    bimbingan kelompok

7.    konseling kelompok

Keadaan memungkinkan para pengajar untuk mengembangkan bahan kajian tertentu dengan memasukkan peristiwa-peristiwa yang tengah berlangsung yang berkaitan dengan lingkungan sosial dan masyarakat tanpa mengurangi tuntutan minimal bahan kajian yang ada dalam GBPP. Dengan demikian sasaran pembelajaran sebagaimana yang disyaratkan oleh kurikulum dapat tercapai dan siswa memiliki wawasan yang lebih luas tentang berbagai peristiwa yang terjadi serta memahami kaitan antara masa lampau sekarang dan akan datang.

E. Kesulitan Belajar Bidang Bimbingan Pribadi

Dalam buku The Process of Parenting, Brooks (1981) mengatakan bahwa kesulitan belajar itu sukar didefinisikan dengan tepat. Menurutnya secara umum kesulitan belajar diartikan sebagai kekurangan dalam proses, belajar yang mendasar, misalnya siswa kurang memperoleh motivasi belajar, baik dari dalam dirinya maupun dari guru, orang tua atau lingkungannya.

Sedangkan Ahmadi dan Supriyono, (1991) memapar-kan bahwa kemampuan belajar setiap individu siswa tidak sama, ada yang cepat ada yang lambat menangkap isi pelajaran. Perbedaan individual itulah yang menyebabkan timbulnya perbedaan mestinya hal seperti itu disebut dengan tingkah laku belajar sebagaimana kesulitan belajar.

Dalam kaitannya dengan belajar bidang bimbingan pribadi dapat dikatakan kesulitan belajar bidang bimbingan pribadi yang dihadapi siswa, sehingga mereka tidak dapat memanfaatkan siswa, sehingga mereka tidak dapat memanfaatkan kemampuan dirinya secara optimal untuk menguasai materi pembelajaran bidang bimbingan pribadi. Oleh sebab itu guru seharusnya memandang kesulitan belajar bidang bimbingan pribadi itu merupakan sebagian dari proses pembelajaran bidang bimbingan pribadi di kelas.

Dengan cara pandang demikian itu, upaya guru dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar bidang bimbingan pribadi, sekaligus dapat difungsikan untuk memantapkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran bidang bimbingan pribadi yang dipelajarinya. Untuk mengetahui siswa yang mengalami kesulitan belajar bidang bimbingan pribadi salah satu cara ialah dengan melihat (observasi) nilai tes-tes bidang bimbingan pribadi siswa dalam satu kelas, kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas.

Hasil ulangan siswa dianalisa untuk dicari jenis kesalahan yang dilakukan siswa, untuk menentukan jenis bantuan yang diperlukan siswa dalam membantu mengatasi masalah kesulitan belajar yaitu pengaruh faktor internal dan faktor eksternal (William Burton).

a) Faktor Internal

1) Masalah pergaulan

- Karena keadaan jiwa anak mempunyai sifat pemalu.

- Emosi tidak seimbang.

- Perasaan tidak aman, anak tidak senang tinggal di sekolah dan di rumah tetapi tidak tahu mengapa demikian.

- Sulit menyesuaikan diri dengan orang lain.

2) Masalah Pelajaran

- Kurang bisa membagi waktu.

- Kurangnya semangat belajar (tidak ada minat belajar).

- Sukar memusatkan perhatian waktu belajar.

3) Kemampuan Dasar intelektual

Kemampuan dasar yang rendah dapat menyebabkan kegagalan dalam mengikuti pembelajaran bidang bimbingan pribadi. Garedner dalam Thomas Astrong (2000) mengatakan ada delapan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap manusia yang disebut dengan multiple intelligences (kecerdasan majemuk), meliputi :

  • kecerdasan linguistik, kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik lisan – maupun tertulis;
  • kecerdasan matematis logis, kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar;
  • kecerdasan spasial, kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual spasial dan mengorientasikan diri secara tepat dalam matrik spasial;
  • kecerdasan kinestetis jasmani, keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan dan ketrampilan menggunakan tangan untuk mencipta-kan atau mengubah sesuatu;
  • kecerdasan musikal, kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal dengan cara mempersepsi, membedakan mengubah dan mengekspresikan;
  • kecerdasan interpersonal, kemampuan mempersepsi clan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain;
  • kecerdasan intraprosonal, kemampuan memahami diri secara akurat, kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, keinginan, kemampuan berdisi-plin diri, memahami dan menghargai diri;
  • kecerdasan natmalis, kecerdasan ini meliputi kepekaan pada fenomena alam lainnya.

Kedelapan kecerdasan tersebut berfungsi bersamaan dengan cara yang berbeda-beda pada diri setiap orang. Bobbi De Porter dan Mike Hernachi membagi otak manusia menjadi tiga bagian dasar yaitu (1) batang otak atau otak reptil, (2) systim limbic atau otak mamalia dan (3) neokorteks.

Otak reptil berkaitan dengan inoting mempertahankan hidup, dorongan untuk mengembangkan spesies. Perhatiannya adalah pada makanan, tempat tinggal, reproduksi dan perlindungan wilayah. Otak limbic berkaitan dengan kecerdasan. Berfungsi mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan pendengaran dan sensasi tubuh, proses yang berasal dari pengaturan ini adalah Junolaron, berpikir secara intelektual, pembuatan keputusan, perilaku, bahasa kendali motorik dasar dan ideasi (penciptaan gagasan non verbal).

b) Faktor Eksternal

1. Tempat belajar yang tidak menyenangkan.

2. Metode pembelajaran guru yang kurang menarik.

3. Keadaan keluarga dan lingkungan sekitar.

F. Bimbingan Pribadi Materi Psikologi Remaja

Pembelajaran Bimbingan Pribadi merupakan salah satu bentuk bidang layanan dalam Bimbingan dan Konseling. Pembelajaran Bimbingan Pribadi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dibatasi pada bahasan materi Psikologi Remaja. Dengan sub materi pembahasansebagai berikut :

a. Rentangan Usia Remaja

Remaja adalah suatu fase perkembangan yang dialami seseorang ketika memasuki usia 12-22 tahun.

b. Ciri-ciri (karakteristik) Remaja

1.  Perkembangan Fisik

Fase remaja adalah periode kehidupan manusia yang sangat setrategis, penting dan berdampak luas bagi perkembangan berikutnya. Berkaitan dengan perkembangan fisik ini, perkembangan terpenting adalah aspek seksualitas, yang dapat dipilah menjadi 2 bagian, yakni:

¨    Ciri-ciri seks primer

Remaja pria mengalami pertumbuhan pesat pada organ testis, pembuluh yang memproduksi sperma dan kelenjar prostat. Pada remaja wanita, terjai pertumbuhan cepat pada organ rahim dan ovarium yang memproduksi ovum (sel telur) dan hormon untuk kehamilan

¨    Ciri-ciri seks sekunder

Seksualitas sekunder pada remaja adalah pertumbuhan yang melengkapi kematangan individu sehingga tampak sebagai lelaki atau perempuan. Remaja pria mengalami pertumbuhan bulu-bulu pada kumis, jambang, dan janggut, tangan, kaki, ketiak dan kelaminnya. Pada pria tumbuh jakun dan suara remaja pria berubah menjadi parau dan rendah. Kulit berubah menjadi kasar.

Pada remaja wanita juga mengalami pertumbuhan bulu-bulu secara lebih terbatas, yakni pada ketiak dan kelamin. Pertumbuhan juga terjadi pada kelenjar yang bakal memproduksi air susu dibuah dada, serta pertumbuhan pada pinggul sehingga menjadi wanita dewasa secara profesional

2.  Perkembangan kognitif (kemampuan berfikir)

3.  Perkembangan emosi

4.  Perkembangan moral

5.  Perkembangan sosial

6.  Perkembangan kepribadian

7.  Perkembangan kesadaran beragama

c. Tugas Perkembangan

            Setiap fase memiliki tugas alamiah untuk berkembang, fase balita tugas perkembangannya adalah belajar berbicara dan berjalan. Jika tugas ini gagal dicapai berarti telah terjadi penyimpangan perkembangan. Salah satu contoh fase perkembangan pada remaja yaitu :

1.  Menerima keadaan fisik dengan segala kualitasnya (tidak rendah diri atas kekurangan fisiologisnya.

2.  Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan figur yang mempunyai otoritas lainnya.

3.  Mengembangkan keterampilan berkomunikasi antara pribadi dan belajar bergaul dengan orang lain/ teman sebaya.

4.  Menemukan manusia model atau tokoh yang akan dijadikan identitas dirinya.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

 

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Penelitian Tindakan (action research) berdasarkan pendekatan naturalistik-kualitatif. Pendekatan ini memandang kenyataan sebagai suatu yang berdimensi jamak utuh dan merupakan satu kesatuan.

Karena itu tidak mungkin disusun rancangan penelitian yang terinci. Rancangan penelitian berlangsung selama proses penelitian berlangsung. Peneliti dan obyek yang diteliti saling berinteraksi yang proses penelitiannya dilakukan oleh peneliti (Sebagai salah satu tenaga pengajar di SMA Negeri …………), dan berfungsi sebagai alat penelitian. Dengan perkataan lain dalam penelitian ini tidak ada alat penelitian yang baku yang telah disiapkan sebelumnya.

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan di atas peneliti menggunakan jenis penelitian tindakan (action research). Bimbingan dan motivasi untuk meningkatkan prestasi pembelajaran bidang bimbingan pribadi siswa kelas XI SMA Negeri …………, Kabupaten …………, Semester II tahun pelajaran 2006/2007.

Dengan kata lain penerapan penelitian tindakan di dalam kelas diharapkan mampu mendorong guru memiliki kesadaran diri melakukan refleksi diri atau kritik diri terhadap aktivitas pembelajaran yang diselenggarakan, (MC. Nift; 1992, Hopkind, 1985). Yaitu guru-siswa proses pembelajaran selama pembelajaran berlangsung. Kemudian dijadikan bahan dasar refleksi diri dalam penyusunan rencana tindakan yang akan dilakukan.

Kegiatan ini dilakukan dengan mengikuti alur pokok yaitu :

l.   Refleksi awal

2. Perencanaan Tindakan

3. Pelaksanaan Tindakan dan pengamatan

4. Refleksi

B. Kehadiran Peneliti

Kehadiran peneliti dan praktisi, menerapkan berbagai teori dan teknik pembelajaran yang relevan dan kreatif. Dalam proses pembelajaran berlangsung peneliti mencatat temuan-temuan dalam pengamatan yang dipakai sebagai dasar refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan. Hasil refleksi, melandasi upaya perbaikan dan penyempurnaan rencana tindakan selanjutnya. Melalui tahapan-tahapan sampai tujuan pembelajaran berhasil.

C. Lokasi Penelitian

Lokasi adalah lokasi situasi sosial terdiri dari tempat, pelaku, dan kegiatan (Nasution;-S. 1992). Lokasi yang dimaksud meliputi :

1)  Aspek tempat : ialah lokasi dimana proses pembelajaran berlangsung yaitu kelas XI SMA Negeri …………, Kabupaten ………….

2)  Aspek pelaku, ialah peneliti, sebagai guru dan siswa kelas XI yang terlibat dalam interaksi  pembelajaran.

3)  Aspek kegiatan ialah bimbingan dan motivasi uintuk meningkatkan prestasi pembelajaran bidang Bimbingan Sosial siswa kelas XI SMA Negeri …………, Kabupaten ………… Semester II, tahun pelajaran 2006/2007 pada materi Kelebihan dan Kekurangan Diri.

D. Sumber Data

Sumber data yaitu berupa subyek penelitian yang dapat memberikan informasi yang dapat membantu perluasan teori (Bagdan and Biklen, 1990). Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan  siswa kelas XI SMA Negeri …………, Kabupaten ………… dalam bimbingan dan motivasi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

E. Prosedur Pengumpulan Data

Data penelitian dihimpun berupa : l) dokumentasi, 2) pengamatan, 3) catatan lapangan.

1. Studi dokumentasi melihat hasil tes-tes harian Semester II tahun pelajaran 2006/2007, dipergunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa ada peningkatan atau merosot dalam pembelajaran Bimbingan Pribadi.

2.  Observasi yaitu pengamatan langsung pada proses pembelajaran diskusi maupun evaluasi bimbingan dan motivasi. Dalam observasi kecermatan,  kemampuan fisik pengamatan, menggunakan alat pencatat.

3. Catatan lapangan

Hasil dan Siklus I dilakukan refleksi dan rekomendasi hasil temuan untuk dijadikan bahan penyempurnaan pada penerapan Siklus II dan seterusnya sampai hasil belajar dan proses pembelajaran mencapai sesuatu dengan tujuan.

F. Analisa Data

Analisa data dilakukan secara diskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dengan bimbingan dan motivasi belajar dengan langkah-langkah sebagai berikut :

I)  Melakukan reduksi yaitu mengecek dan mencatat kembali data-data yang telah terkumpul.

2)  Melakukan interpretasi, yaitu menafsirkan yang diwujudkan dalam bentuk pernyataan.

3)  Melakukan inferensi yaitu menyimpulkan, apakah dalam pembelajaran ada peningkatan prestasi belajar dibanding sebelum penelitian.

4)  Tahap tindak lanjut, yaitu merumuskan langkah-langkah perbaikan siklus berikutnya atau dalam pelaksanaan di lapangan setelah siklus berakhir berdasarkan informasi yang telah ditetapkan.

Pengambilan kesimpulan berdasarkan analisis hasil observasi dalam bentuk interpretasi dalam bentuk pernyataan. Dalam kegiatan analisis data menggunakan metode pengolahan data dengan rumus :

X100

Keterangan :

P =  Prosentase

F =  Frekuensi dari jawaban alternatif jawaban yang berhubungan dengan masalah yang ditanyakan.

N = Jumlah            seluruh responden yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu.

Secara garis besar sebagai ilustrasi untuk mendapatkan gambaran yang jelas maka hasil angket dijumlah. Kemudian diolah berdasarkan rumus prosentase. Besar kecilnya nilai prosentase tersebut diadakan rekapitulasi data untuk ditentukan rata-rata kelas berdasarkan prosentase data.

Sebagai hasil yang diperoleh dalam penelitian ini. Dilanjutkan dengan penginterpretasian data, dengan menggunakan tabel kuatilikasi prosentase yang mengacu pada petunjuk pelaksanaan penilaian di SMA sebagai berikut:

0 – 20% kurang sekali

21 – 40% kurang

41 – 60% cukup

61 – 80% baik

81 – 100% sangat baik, (Depdikbud, 1995).

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: